Yogyakarta, (8 Juni 2026) | SINDONEWSJateng.Com – Metode pembelajaran tahun 2026 melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) diharapkan mampu membangun pola pikir seluruh insan pendidikan, khususnya para peserta didik. Harapan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan nasional.
Di tengah berbagai perubahan kurikulum dan kebijakan pendidikan yang terus berkembang, Abdul Mu’ti menilai masih terdapat persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian, yakni aspek budaya dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pandangan tersebut disampaikannya dalam siniar Lensamu yang ditayangkan melalui Muhammadiyah Channel beberapa waktu lalu.
Menurutnya, perubahan regulasi tidak akan memberikan dampak yang signifikan apabila tidak diiringi dengan perubahan cara pandang para pelaku pendidikan.
“Problem kita sebenarnya dalam penyelenggaraan pendidikan itu adalah problem budaya. Regulasi itu mudah diubah, tetapi kalau mindset-nya tidak berubah, tentu perilakunya tidak berubah, kebudayaannya juga tidak berubah,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya bertujuan membangun peradaban, karakter, serta kepribadian bangsa. Oleh karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai dari pembangunan cara pandang (worldview) yang kemudian diwujudkan dalam kebiasaan dan budaya belajar yang lebih baik.
Salah satu perubahan yang terus didorong adalah pergeseran pola pembelajaran dari surface learning menuju deep learning. Selama ini, menurutnya, proses belajar sering kali hanya berlangsung di permukaan, di mana siswa sekadar menghafal materi untuk menghadapi ujian, lalu melupakannya setelah ujian selesai.
“Surface level processing itu belajar yang reproduktif. Tadi diajarkan begini, hafalkan, nanti keluar di ujian, itu surface level processing, sudah selesai. Tapi kalau deep learning itu melibatkan proses dia berpikir, ‘Loh, saya dulu pemahaman saya begini, kok ada begini?’, ada proses di situ,” jelasnya.
Ia menambahkan, deep learning merupakan proses kognitif yang mendorong peserta didik untuk memperhatikan, memikirkan, membandingkan, serta memaknai pengetahuan yang diperoleh sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi maupun kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan pendidik dan peserta didik dalam memaknai proses belajar yang dijalani.
Selain itu, Abdul Mu’ti juga menyoroti masih adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum dalam dunia pendidikan. Menurutnya, dikotomi tersebut tidak perlu dipertahankan karena keduanya dapat saling melengkapi dan memperkuat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sebagai contoh, ilmu matematika dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat maupun pembagian waris. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan tersebut, menurutnya, telah lama diajarkan oleh Ahmad Dahlan.
“Kalau orang mempelajari sesuatu dan tidak mengontekstualisasikan dengan realitas, ilmu menjadi tidak punya makna. Itu kan deep learning ala K.H. Ahmad Dahlan, langsung praktikal,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Abdul Mu’ti berharap pendidikan Indonesia tidak hanya menghasilkan sistem yang lebih modern, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang memahami alasan mereka belajar, mampu menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan, serta menjadikan pengetahuan sebagai bekal dalam membangun peradaban bangsa.
Penulis: Susmono (Ramsus)
Sumber: Tim Humas PDM Muhammadiyah Yogyakarta.
