Purbalingga | SINDONEWSJateng.Com – Pemerintah Desa Karangcegak bersama masyarakat menggelar Tirta Amarta Festival 2026 dalam rangka ritual Ruwat Bumi Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut berlangsung meriah dengan berbagai rangkaian acara budaya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan sumber daya alam yang dimiliki desa.

Kepala Desa Karangcegak, Eko Rastono, S.Pd.I, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Desa Karangcegak memiliki anugerah berupa empat titik sumber mata air yang hingga kini terus mengalir dan tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan saat musim kemarau panjang.

“Desa Karangcegak memiliki empat sumber mata air yang melimpah. Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah mengalami kekeringan meskipun musim kemarau. Air merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat, sehingga sudah sepatutnya kita syukuri dan jaga bersama,” ujar Eko Rastono.

Menurutnya, Tirta Amarta Festival tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Karangcegak, Harsono, S.Sos, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Karangcegak periode 2012–2019, mengajak seluruh warga untuk menjaga kondusivitas selama rangkaian kegiatan berlangsung.

“Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat agar pelaksanaan acara ini berjalan aman, damai, dan rukun. Jangan sampai kegiatan yang baik ini dinodai oleh hal-hal yang tidak baik. Mari kita jaga kebersamaan dan persaudaraan,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Camat Kutasari, Tri Wahyu Dini Susanti, S.STP, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Karangcegak dalam melestarikan tradisi Ruwat Bumi sebagai warisan budaya leluhur.

“Kegiatan Ruwat Bumi Desa Karangcegak merupakan bentuk nguri-uri budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Puncaknya nanti akan digelar pertunjukan wayang kulit yang seluruh pembiayaannya berasal dari swadaya masyarakat. Ini menunjukkan tingginya kepedulian warga terhadap pelestarian budaya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, nilai-nilai budaya lokal harus tetap dikenalkan dan diwariskan.

“Generasi muda saat ini banyak terpengaruh oleh kecanggihan teknologi. Namun budaya tetap harus diajarkan agar mereka tidak kehilangan jati diri. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia sumber air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” katanya.

Menurut Tri Wahyu Dini Susanti, kegiatan Ruwat Bumi yang terlaksana melalui swadaya masyarakat juga menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong warga Desa Karangcegak.

“Ini tidak membebani pemerintah desa karena murni dari swadaya masyarakat. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan kelestarian sumber air. Semangat gotong royong seperti yang ditunjukkan masyarakat Karangcegak harus terus dipupuk dan diwariskan,” tambahnya.

Ketua PKRT Desa Karangcegak, Bekti Wibowo, menyampaikan harapannya agar Tirta Amarta Festival dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai upaya menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya yang dimiliki masyarakat.

“Kami berharap kegiatan Tirta Amarta Festival dan Ruwat Bumi ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Selain menjadi sarana mempererat kebersamaan warga, kegiatan ini juga mampu membangkitkan dan melestarikan budaya lokal Desa Karangcegak khususnya, serta turut menjaga dan mengembangkan budaya nasional Indonesia pada umumnya,” ujar Bekti Wibowo.

Menurutnya, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat. Melalui keterlibatan warga dalam setiap rangkaian kegiatan, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

Acara pembukaan Tirta Amarta Festival 2026 semakin semarak dengan penampilan seni budaya dari Sanggar Arunica Karangcegak yang membawakan Tari Gambyong, memukau tamu undangan dan masyarakat yang hadir. Rangkaian kegiatan akan mencapai puncaknya dengan pagelaran wayang kulit yang menjadi salah satu tradisi yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya.

Melalui Tirta Amarta Festival, masyarakat Desa Karangcegak tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Tradisi Ruwat Bumi yang terus dijaga ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah sumber air yang melimpah sekaligus wujud komitmen masyarakat dalam melestarikan kearifan lokal di tengah era modern.

(Redaksi SINDONEWSJateng.Com)