Semarang, Jawa Tengah –Sindonewsjateng.com, 24 April 2026,
Gerak pembangunan dari pinggiran kembali menunjukkan taringnya. Program Tentara Nasional Indonesia (TNI) Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II serentak digelar di lima kabupaten di Jawa Tengah—Semarang, Jepara, Kendal, Pati, dan Rembang—membawa satu pesan kuat: desa maju, Indonesia melaju.
Di Dusun Kunci Putih, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, suara mesin dan semangat gotong royong berpadu dalam proyek betonisasi jalan penghubung antarkecamatan. Jalan sepanjang 748 meter ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi baru bagi aktivitas ekonomi warga.
Kepala Desa Jatirunggo, Fauzan, menegaskan bahwa akses tersebut menjadi jalur vital bagi warga menuju kawasan industri Pringapus. “Ini bukan hanya jalan, tapi jalur harapan bagi masyarakat untuk bekerja dan berkembang,” ujarnya.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menekankan bahwa keberhasilan TMMD tidak hanya bergantung pada TNI dan pemerintah, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat. Sinergi ini diyakini menjadi kunci percepatan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, TMMD juga menyentuh aspek nonfisik seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, pencegahan narkoba, hingga layanan administrasi kependudukan. Kombinasi ini menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial.
Di Kabupaten Jepara, pembangunan rabat beton di Desa Gelang, Kecamatan Keling, menjadi langkah nyata pemerataan pembangunan. Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota. “Desa harus menjadi pusat pertumbuhan baru,” tegasnya.
Sementara itu di Kendal, wajah bahagia terpancar dari warga Desa Bringinsari. Jalan yang selama ini sulit dilalui, kini mulai dibenahi. Bagi warga seperti Munif, ini adalah momentum perubahan nyata yang selama ini dinantikan.
Kabupaten Pati tak kalah progresif. Selain pembangunan jalan, program TMMD di Desa Gunungpanti juga mencakup renovasi rumah tidak layak huni, pembangunan fasilitas sanitasi, hingga penghijauan kawasan Pegunungan Kendeng. Upaya ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Di Rembang, pembangunan jembatan dan akses pertanian menjadi fokus utama, membuka peluang distribusi hasil tani lebih cepat dan efisien. Program ini turut diperkuat dengan edukasi masyarakat tentang hukum, kesehatan, hingga pencegahan stunting—sebuah pendekatan pembangunan yang menyeluruh.
Dengan durasi pelaksanaan selama 30 hari dan dukungan anggaran dari berbagai sumber, TMMD Sengkuyung II menjadi bukti konkret bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan perubahan signifikan hingga ke akar rumput.
Lebih dari sekadar proyek pembangunan, TMMD adalah gerakan kolektif yang menanamkan optimisme. Di tengah debu jalan yang dibeton, tumbuh harapan baru—bahwa masa depan desa tak lagi tertinggal, melainkan menjadi garda depan kemajuan bangsa.
Susmono(Ramsus)
