Sindonewsjateng.com, Semarang – Jawa Tengah
( 9 / 11 / 2025 )
Secara global masyarakat yang ada di wilayah pulau Jawa dan lebih khususnya Provinsi Jawa Tengah banyak yang menyukai Wayang Kulit .
Ada inovasi bagus dari Muhammadiyah yang merupakan Organisasi dan salah satu lembaga yang sudah banyak di seluruh nusantara .
Mempunyai inovasi ” Ubah Profesi Dalang Menjadi Juru Dakwah ” ini mengandung arti luas si Dalang dalam setiap pementasan Wayang Kulit selalu menyisipkan ayat – ayat suci Al – qur ‘ an .
Seni wayang kulit masih relevan dengan upaya dakwah di era modern , hal tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Komunitas ( LDK ) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah ( PWM.) Jawa Tengah Dr.H.KRA, AM.Jumal , SE.MM.
Alam penjelasannya ” wayang sarat akan simbol – simbol yang relevan dengan ajaran dasar Islam., lebih khususnya Tauhid ” kata Ketua LDK .
” Ini bagian dari misi dakwah kulturalnya sekaligus juga kita menepis anggapan bahwa organisasi tersebut berjarak dati budaya lokal ” jelasnya .
Acara Wayang Kulit berjudul ” Amarto Binangun berlangsung pada hari Sabtu 8 November 2025 di Semarang .
Yang disaksikan ratusan orang lebih dan sangat kentara sekali menempatkan dalang sebagai juru dakwah. Simbol-simbol pewayangan diperkenalkan sebagai representasi kuat dari Rukun Islam dan ajaran dasar Tauhid.
Langkah berani / inovasi bagus ini diambil oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah acara Pentas Wayang Kulit ini dipentaskan di LPP RRI Semarang,
Dr.KH.Tafsir , M.Ag.menerangkan ” upaya ini bertujuan mengoptimalkan seni tradisi sebagai media efektif penyampaian nilai – milai Al – qur : an kepada masyarakat luas ,
Bagi Muhammadiyah Wayang adalah alat dakwah , alat untuk berkomunikasi dan promosi untuk menyampaikan hisi – visi kami dihadapan publik ” kata Tafsir .
Dilanjutkannya, pendekatan ini sejalan dengan kaidah Islam tentang pemeliharaan tradisi lama yang baik ,
Dan mengambil kebiasaan baru yang lebih baik ( al – muhafashah – alal qodimish Salih Wal Akhdu bil Jadidil Ashlah ) menjaga landasan organisasi ini menjaga kekestarian wayang ,Wayang sebagai tuntunan bukan sekedar tontonan , strategi Dakwah Kultural ini berprinsip mengubah wayang menjafi tuntunan ( petunjuk )alih- alih sekadar tontonan ( hiburan )
Hal ini memang sudah sering kira lihat penampilan dalang kafer Muhammadiyah Ki Ketut Budiman yang mampu menyisipkan ayat – ayat Al -Qur ‘ an didalam dialog wayang secara halus. bisa diambil kesimpulan siapapun penontonnya akan mendengar isi Al – Qur : an tanpa merasa digurui ” jelasnya.
Kegiatan Pentas Wayang Kulit dalam rangka mempetingati Milad Muhammadiyah yang ke 113 , Hari Wayang Sedunia dan Hari Pahlawan.
Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir M.Ag., menyatakan bahwa upaya ini bertujuan mengoptimalkan seni tradisi sebagai media efektif penyampaian nilai-nilai Al-Qur’an kepada masyarakat luas.
“Bagi Muhammadiyah, wayang adalah alat dakwah, alat untuk berkomunikasi, dan promosi untuk menyampaikan visi-visi kami di hadapan publik,” ujar Tafsir.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan kaidah Islam tentang pemeliharaan tradisi lama yang baik dan mengambil kebiasaan baru yang lebih baik (al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah), yang menjadi landasan organisasi ini sangat menjaga kelestarian wayang.
Wayang sebagai Tuntunan, Bukan Sekadar Tontonan
Strategi dakwah kultural ini didorong oleh prinsip mengubah wayang menjadi tuntunan (petunjuk) alih-alih sekadar tontonan (hiburan). Hal ini terlihat dari penampilan dalang kader Muhammadiyah, Ki Ketut Budiman, yang mampu menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam dialog wayang secara halus.
“Dengan cara ini, siapapun penontonnya akan ‘mendengar’ isi Qur’an tanpa merasa digurui,” tambah Tafsir.
Senada dengan Tafsir, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jateng, Dr. H. KRAT. AM. Jumai SE. MM., menjelaskan bahwa wayang sarat akan simbol-simbol yang relevan dengan ajaran dasar Islam, khususnya tauhid.
“Simbol tokoh pewayangan itu menunjukkan kekokohan tauhid. Misalnya, Pandawa Lima itu simbol kekuatan kita untuk menjunjung tinggi lima Rukun Islam dan sholat lima waktu. Kita tidak bisa menyepelekan kekuatan ‘lima’ ini,” jelas Jumai yang juga merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.
Bukti Komitmen dan Konsistensi
Pagelaran wayang kulit dakwah ini merupakan kolaborasi antara dalang populer Ki Sigid Ariyanto dan Ki Ketut Budiman, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-113, Hari Pahlawan, dan Hari Wayang Dunia.
Acara tersebut sekaligus menandai tahun ketiga kerja sama rutin antara LDK PWM Jateng dan RRI Semarang dalam melestarikan seni tradisi.
Sebagai bukti komitmen terhadap akomodasi seni budaya, LDK PWM Jateng tercatat telah menggelar lebih dari 10 kali pentas wayang dalam konteks safari dakwah di berbagai wilayah sepanjang periode 2023 hingga 2025. ( Ramsus )
