SINDONEWSjateng.com, Jakarta – Indonesia. ( 10 / 2 / 2026 )
Semua umat muslim – muslimah yang ada diseluruh penjuru Nusantara banyak yang ingin mengetahui kepastian Bulan Ramadan di tahun 2026 ( 1446 H ) .
Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama ( Kemenag ) akan menggelar Sidang Isbat pada hari Selasa 17 Februari 2026 guna menetapkan awal Ramadan 1446 Hijriah ,
Sidang yang menjadi rujukan nasional ini akan berlangsung di Auditorium H.M Rasjidi Kantor Kemenag Jakarta Pusat bertepatan dengan 29 Syakban 1446 H.
Seperti tahun – tahun sebelumnya Sidang Isbat berpotensi perbedaan awal puasa pada ormas – ormas besar Islam , Muhammadiyah dengan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal diperkiraan menetapkan har pertama Ramadan tanggal 18 Februari 2026 sedangkan Nadhlatul Ulama ( NU ) dan pemerintah menggunakan kriteria MABIMS ( tingginya Hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat ) dan jika syarat ini tidal terpenuhi pada tanggal 17 Februari 2026 maka akan dilakukan Istikmal sehingga Ramadan akan jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026 .
Tahapan dan mekanisme Sidang Isbat
Sidang Isbat merupakan proses penentuan awal Ramadan 1446 Hijriah yang akan dilakukan melalui serangkaian tahapan ketat untuk memastikan keakuratan data ,
Tahap pertama dilalui dengan pemaparan. Posisi Hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag yang disiarkan secara terbuka setelah pemaparan sains tahapan kedua adalah Sidang Tertutup .
Disini laporan ratusan titik – titik Rukyat ( pemantauan langsung terbuka dari seluruh Indonesia ) laporan dikumpulkan .
Petugas dilapangan akan melaporkan apakah mereka berhasil melihat Hilal atau tidak dibawah sumpah , hasil diskusi antara perwakilan ormas Islam, ahli astronomi dan pejabat negara kemudian akan disyahkan oleh Menteri Agama .
Dan tahapan terakhir keputusan tersebut akan diumumkan kepada publik melalui konferensi pers resmi yang sangat dinantikan jutaan kaum muslimin- muslimah yang ada di Republik Indonesia pemerintah tidak bekerja dalam proses ini Sidang Isbat melibatkan kolaborasi Lintas Sektoral yang melibatkan lembaga – lembaga yang kredibel selain ormas NU , Muhammadiyah , PERSIS ,dan Al – Irsyad ada juga pakar dari BMKG dan BRIN juga turut memberikan data teknis .
Kehadiran dari Planetarium Jakarta dan dari berbagai obsetvarium daerah menambah bobot ilmiah dalam sidang tersebut hal ini membuktikan dalam penetapan agama di Indonesia selalu didasarkan pada dialog antara teks kegamaan dengan kenyataan berdasarkan sains. (Ramsus)
